PENGUJIAN MORFOLOGI SPERMATOZOA PADA SEMEN BEKU PRODUKSI BIB LEMBANG

Ditulis oleh : Administrator - Diterbitkan : Rabu - Dibaca : 561


Inseminasi Buatan (IB) adalah teknologi reproduksi yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak. Saat ini teknologi reproduksi sudah sangat maju, tetapi IB masih merupakan satu – satunya teknologi yang paling aplikatif digunakan secara luas di Indonesia terutama pada ternak sapi. Beberapa faktor dapat mempengaruhi keberhasilan IB, antara lain kualitas semen beku merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dan perlu perhatian dalam pelaksanaan IB. Untuk menentukan kualitas semen beku yang diproduksi, BIB Lembang sesuai dengan tugas dan fungsinya selalu melaksanakan pengujian semen beku sebelum didistribusikan. Kegiatan pengujian semen beku yang dilaksanakan memenuhi persyaratan teknis SNI semen beku yaitu : Semen Beku sapi SNI 4869.1 : 2008; Semen Beku Kerbau SNI.4869.2 : 2008 dan Semen Beku Kambing dan Domba SNI 4869.3 : 2014 serta SNI ISO/IEC 17025 : 2008.

Pengujian dilaksanakan secara rutin melalui pemeriksaan Post Thawing Motility (PTM) dan pengujian longivitas. Sedangkan sebagai upaya pengendalian kualitas semen beku yang diproduksi secara laboratorium dengan melaksanakan pengujian morfologi spermatozoa dilakukan satu tahun sekali untuk melihat tingkat normalitas dan abnormalitas dari sel spermatozoa.

Pengujian Morfologi Spermatozoa

a. Dasar Pemikiran

Untuk menentukan kualitas spermatozoa salah satu indikatornya adalah abnormalitas spermatozoa, karena struktur sel yang abnormal dapat menyebabkan gangguan dan hambatan pada fertilisasi, serta menyebabkan rendahnya angka implantasi maupun kebuntingan (PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON volume I, Nomor 4, Juli 2015 halaman 930-934). Tingkat abnormalitas dapat diketahui melalui pengujian morfologi spermatozoa secara terukur. Pengujian morfologi spermatozoa merupakan salah satu parameter yang belum banyak dilakukan, padahal morfologi spermatozoa yang abnormal telah banyak dilaporkan akan mempengaruhi fertilitas. Menurut Arifiantini et al.(2006) parameter yang dianggap penting bagi spermatozoa yang akan menentukan fertilitasnya antara lain adalah: kapasitas produksi, daya tahan dan morfologi spermatozoa termasuk jumlah spermatozoa yang abnormal. Sependapat yang dikatakan Barth dan Oko (1989) dalam Arifiantini dan Ferdian (2004) bahwa morfologi spermatozoa berkepentingan dalam penentuan fertlitas dan dianggap serius apabila abnormalitas primer mencapai 18 - 20 % karena dapat menyebabkan penurunan fertilitas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut meyakinkan bahwa pengujian morfologi spermatozoa perlu dilakukan walaupun sebenarnya tidak perlu dilakukan secara rutin tetapi harus dilakukan pada saat pertama kali pejantan memasuki Balai, jika ada perubahan komposisi pakan atau jika sapi tersebut sakit dengan suhu tinggi dalam waktu yang lama ( Arifiantini, 2015 ).

b. Metoda Pengujian

Morfologi spermatozoa adalah salah satu bentuk evaluasi semen secara mikroskopis yang dilakukan dengan menghitung jumlah spermatozoa yang normal dan abnormal primer dan sekunder (Arifiantini dan Ferdian, 2006 ). Pengujian morfologi spermatozoa dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara manual dengan menggunakan bahan dan paralatan konvensional maupun menggunakan teknologi canggih. Cara manual dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pewarnaan dan pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya atau mikroskop fase kontras. Sedangkan metoda canggih yang dapat digunakan salah satunya adalah Computerized Digital Image Analysis. 

Pengujian morfologi yang dilakukan di BIB Lembang menggunakan teknik pewarnaan Eosin. Menurut Arifiantini (2012), pemeriksaan morfologi spermatozoa dapat menggunakan pewarna yang sama untuk pemeriksaan rasio spermatozoa hidup dan mati (viabilitas). Prosedur pewarnaan menggunakan eosin 2 % atau eosin nigrosin sama dengan pemeriksaan untuk rasio hidup dan mati. Perbedaannnya untuk pemeriksaan morfologi spermatozoa adalah saat penyiapan preparat tidak perlu dikeringkan dalam waktu 10 – 15 detik. Cara perhitungan sama dengan yang dilakukan untuk melihat rasio hidup dan mati, yaitu 10 lapang pandang dengan total jumlah sel yang terhitung 200 sel.

Pengamatan dilakukan terhadap spermatozoa dengan menghitung jumlah spermatozoa normal dan abnormal. Spematozoa yang abnormal dikelompokan menjadi abnormalitas primer dan abnormalitas sekunder. Penggolongan abnormalitas spermatozoa berbedabeda diantara peneliti maupun laboratorium. Menurut Barth dan Oko (1989) dalam Yulnawati at al (2015) menyampaikan bahwa bentuk-bentuk abnormalitas spermatozoa diklasifikasikan menjadi dua yaitu abnormalitas primer dan sekunder. Abnormalitas sekunder umumnya terjadi pada bagian ekor dan akan mudah terseleksi pada saat pengujian motilitas, sedangkan abnormalitas primer terjadi pada bagian kepala dan sebagian bersifat genetik dan berdampak pada fertilitas (Riyadhi et al 2012). Abnormalitas primer atau bentuk kelainan pada kepala spermatozoa antara lain bentuk kepala menyerupai buah pear atau dayung (pearshaped/ pyriform), kepala spermatozoa berukuran lebih besar (macrocephalus) atau lebih kecil (microchephalus) dari ukuran normal sel spermatozoa dan spermatozoa terdapat dua kepala dengan satu ekor (double head). Sedangkan Abnormalitas sekunder adalah kelainan pada ekor antara lain ekor yang melingkar, ekor ganda dan bengkok, biasanya menyebabkan terganggunya motilitas.

CARA MEMBUAT PREPARAT ULAS DENGAN TEKNIK PEWARNAAN EOSIN

1. Setetes semen diletakkan di atas gelas obyek, ditambah satu tetes pewarna eosin, dan dihomogenkan menggunakan stik.

2. Dengan menggunakan gelas obyek kedua, sudut-sudut gelas obyek tersebut ditempelkan pada campuran semen-eosin.

3. Campuran semen-eosin yang menempel pada gelas obyek kedua, kemudian ditempatkan pada permukaan gelas obyek ketiga dan dibuat usapan (smear) tipis.

4. Usapan yang telah terbentuk selanjutnya dikeringudarakan, diberi kode pejantan, preparat sudah siap untuk dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya pada pembesaran 400 kali. Preparat ulas yang telah diwarnai selanjutnya dilakukan pengamatan yaitu dengan cara melihat kelainan bentuk kepala dan ekor spermatozoa lalu menghitung jumlah spermatozoa sebanyak 200 sel, selanjutnya semua bentuk abnormalitas spermatozoa yang ditemukan dicatat dan diklasifikasikan.

c. Hasil Pengujian Abnormalitas Spermatozoa

Pengujian morfologi spermatozoa pada semen beku produksi BIB Lembang dilakukan sepanjang tahun 2013, dari 138 ekor pejantan yang terdiri dari 125 ekor sapi (Ongole, FH, Brahman, Simmental, Limousin dan Angus) serta 13 ekor kambing dan domba. Semen beku pejantan tersebut diperiksa untuk dilakukan pengujian spermatozoa sebanyak 226 sampel ( 1 – 2 sampel/ pejantan ).

Berdasarkan hasil pengamatan dari pengujian ini secara umum didapatkan spermatozoa normal pada semen beku Sapi, Kambing dan Domba sebesar 85,62 ?ngan rincian lebih banyak spermatozoa normal pada semen beku sapi yaitu 85,88 % dibanding 83,00 % pada semen beku kambing/domba. Abnormalitas total spermatozoa sebesar 14,38?ngan persentase abnormalitas pada bagian kepala sebesar 1,81?n

abnormalitas pada bagian ekor sebesar 12,57%. Persentase abnormalitas tersebut masih dapat ditolelir, sesuai pendapat Hafez (1987) dalam Yulnawati (2015) jumlah spermatozoa abnormal dalam semen hingga mencapai 20% tidak akan menyebabkan penurunan angka fertilitas.

Secara umum tanpa melihat faktor individu tingkat abnormalitas primer spermatozoa pada semen beku Sapi dan kambing/domba yang diproduksi BIB Lembang sepanjang tahun 2013 cukup baik dengan nilai 1,81%, dengan rincian pada semen beku sapi sebesar 1,78 % lebih baik dibanding 2,05% pada kambing/domba. Dari kenyataan ini memberikan keyakinan bahwa semen beku produksi BIB Lembang tahun 2013 layak untuk digunakan IB karena telah memenuhi semua persyaratan mulai dari proses produksi sampai pengujian hasil produksi termasuk pengujian morfologi spermatozoa pada semen beku.

 Penulis : Drh. Emi Rochmiati / Medik Veteriner Madya