Perkembangan Inseminasi Buatan di Indonesia

Ditulis oleh : Ikhwanul Zakaria AMd - Diterbitkan : Jumat, 7 Juli 2017 - Dibaca : 985


Inseminasi buatan (IB) diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada permulaan tahun 1950-an oleh Profesor B. Seit dari Denmark di Fakultas Kedokteran Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka Rencana Kesejahteraan Istimewa (RKI) pada tahun-tahun berikutnya didirikanlah stasiun inseminasi buatan di daerah-daerah terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.


Fakultas Kedokteran Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan dapat dikatakan berfungsi sebagai pusat IB yang melayani peternak di daerah Bogor dan sekitarnya. aktivitas dan pelayanan IB oleh stasiun-stasiun inseminasi tersebut bersifat hilang timbul dan mengurangi, kalau tidak menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap keuntungan-keuntungan IB.


Kegiatan IB di Jawa Tengah mulai dilaksanakan pada tahun 1953 dan dilaksanakan oleh dua balai yaitu Balai Pembenihan Ternak di Mirit kabupaten Kebumen. Balai satu lagi ada si Sidomulyo, kecamatan Ungaran, kabupaten Semarang. Tujuan kegiatan IB yang dilaksanakan oleh Balai Pembenihan Ternak Mirit adalah intensifikasi Ongolisasi dengan menggunakan pejantan Sumba Ongole (SO). Sedangkan kegiatan di Ungaran adalah menciptakan suatu tipe ternak serbaguna terutama peningkatan produksi susu dengan menggunakan pejantan Frisian Holstein (FH). Ternyata Balai Pembenihan Ternak Mirit tidak berhasil menjalankan fungsinya, sama seperti Balai Pembenihan ternak di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Yang tetap bertahan hanyalah Balai Pembenihan Ternak Ungaran yang pada tahun 1970 berubah nama menjadi Balai Inseminasi Buatan Ungaran.


Balai IB yang tertua di Indonesia dan masih bertahan sampai sekarang adalah Balai Inseminasi Buatan Ungaran, Jawa Tengah. Berdirinya Balai IB Ungaran ini menjadi cikal bakal perkembangan IB sampai ke daerah-daerah di Indonesia. Pada awalnya kegiatan pelayanan IB hanya berkisar di sekitar Ungaran, tetapi lambat laun perkembangan IB meliputi daerah-daerah di sepanjang jalur susu Semarang-Solo dan Tegal. Perkembangan IB yang pesat ini didukung oleh penggunaan semen beku, sehingga IB di Jawa Tengah tidak terbatas pada sapi perah tetapi juga sapi potong.


Selanjutnya pada tahun 1969, IB mulai diperkenalkan ke daerah-daerah lain di Indonesia. Fakultas Kedokteran Hewan IPB melalui Departemen Fisiopatologi reproduksi telah mengintrodusir IB di daerah Pengalengan Bandung Selatan dengan “calf show” yang pertama kali dalam sejarah perkembangan IB di Indonesia.


Pemasukan semen beku ke Indonesia pada permulaan tahun 1973 telah membantu menggalakkan IB. semen beku telah digunakan dalam IB pada sapi perah maupun sapi potong. Dalam usaha mengintrodusir penggunaan semen beku dalam IB dan menyebarluaskan bibit-bibit unggul sapi potong ke daerah Indonesia Timur maka dilaksanakan kursus IB dan didirikan pusat IB di Sulawesi Selatan (ujung Pandang) dan NTT (Kupang). Kemudian diperkenalkan pula IB di Sulawesi Tenggara, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Direktorat Bina Produksi, Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, teknik IB telah diterapkan di 13 Propinsi di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi selatan dan Kalimantan Selatan.


Gairah masyarakat akan IB telah berkembang pesat, untuk itu dalam memenuhi permintaan terutama penyediaan semen beku maka pemerintah mendirikan satu pusat IB di lembang Jawa Barat dan Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Wonocolo Surabaya sebagai sentra pengembangan bioteknologi IB di Jawa Timur dengan salah satu kegiatannya adalah memproduksi semen cair untuk melayani Inseminasi di Surabaya, Malang, Pasuruan dan Sidoarjo. Tahun 1975 kegiatan produksi semen beku, dan tahun 1982 produksi semen beku dipindahkan ke Singosari dan selanjutnya berkembang menjadi BIB Singosari dan sentra IB Jawa Timur hanya sebagai regulator pelaksanaan IB di Jawa Timur.


Hasil IB di Jawa yang dilaksanakan sejak 1972-1974 kemudian dilakukan survey evaluasi kegiatan IB sapi tersebut oleh Direktorat Jenderal Peternakan bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Fakultas Peternakan Universitas Pajajaran Bandung. Hasilnya adalah persentase konsepsi yang dicapai selama 2 tahun terakhir khususnya dengan semen beku eks impor masih sangat rendah yaitu 21,30-38,92 % untuk inseminasi pertama dibandingkan dengan 60-70% di negara-negara maju. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa titik berat ketidakberesan tidak terletak pada kualitas semen (bibit) pejantan, tidak juga pada keterampilan peternak atau inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidaksuburan ternak-ternak betina itu sendiri.


Ketidaksuburan atau kemajiran sapi-sapi betina tersebut belum banyak diteliti, tetapi besar kemungkinan besar disebabkan oleh kekurangan makanan yang menyolok, kelainan fisiologik anatomik dan kelainan patologik saluran kelamin betina dan merajalelanya penyakit kelamin menular.


Perkembangan IB saat sekarang tersebar di seluruh Indonesia, hal ini dikarenakan masyarakat telah menyadari arti dan manfaat IB untuk meningkatkan produktivitas ternaknya. Menyadari arti penting IB tersebut maka hampir setiap daerah propinsi di Indonesia melalui Dinas Peternakan/Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mendirikan Balai Inseminasi Buatan atau UPT Inseminasi Buatan.


Bahan Bacaan:

- Mozes R. Toelihere. Inseminasi Buatan Pada Ternak

- Salisbury G.W., N.L. Vandemark dan R. Djanuar. Fisiologi dan Inseminasi Buatan Pada Sapi.

- Dan dari berbagai sumber.